Rembug Bareng Seleksi Kota Kreatif: Suara Pelaku Ekraf Jogja Menggema di Secret Garden
Yogyakarta – Suasana hangat penuh gagasan tercipta dalam Rembug Bareng Seleksi Kota Kreatif Yogyakarta yang digelar pada Kamis (18/7/2024) di Secret Garden Coffee and Chocolate, Wirobrajan. Forum ini mempertemukan puluhan pelaku ekonomi kreatif lintas bidang dengan regulator kota, dengan tujuan mengusung arah baru bagi Yogyakarta dalam program Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) 2024.
Tujuan Forum
Acara ini dimaksudkan sebagai wadah berbagi insight antar pelaku kreatif dengan pemerintah kota. Diskusi difokuskan pada pertanyaan besar: “Mau dibawa ke mana arah ekonomi kreatif Kota Yogyakarta?” Hasil yang diharapkan ialah lahirnya kolaborasi dan saling dukung antar-stakeholder, demi terciptanya ekosistem ekraf yang berkesinambungan.
Suara dari Lapangan: Tantangan & Harapan
Banyak ide mengemuka dari perwakilan komunitas, akademisi, hingga pegiat seni.
- Affi Khresna (Bromica Creative) menyoroti minimnya ruang berkumpul bagi pelaku ekraf. Ia berharap forum semacam ini digelar rutin agar kerja sama antar unsur ABCGM (Academic, Business, Community, Government, Media) bisa berjalan optimal.
- Dr. Greg Wuryanto (UKDW/Jogja Creative Society) menekankan pentingnya sinkronisasi antar instansi pemerintah. “Ekosistem hanya bisa lahir dari komitmen. Predikat bukan tujuan utama, yang penting adalah komitmen membangun ekosistem,” ujarnya.
- Dinda Intan (Jogja Festivals) menyoroti kebutuhan regulasi yang menopang pertumbuhan festival, karena menurutnya ekosistem kreatif tidak mungkin tercipta secara individual.
- Ery Kuncoro (BOTIKA) dengan tegas mempertanyakan arah kebijakan pemerintah. Ia menilai jangan sampai pemerintah hanya mengejar predikat tanpa benar-benar mendukung kebutuhan pelaku ekraf.
- Aji Wartono (Ngayogjazz/Wartajazz) mengingatkan bahwa kekuatan Jogja ada pada komunitas. Namun, ia juga menyoroti risiko perubahan regulasi setiap lima tahun seiring pergantian kepemimpinan.
- Lulut Wahyudi (Retro Classic Cycle/Custom Fest) menyuarakan kegelisahan serupa. Menurutnya, banyak forum bersama pemerintah tak memberi dampak nyata. “Komunitas Jogja lahir organik dengan passion. Tanpa pemerintah pun tetap jalan. Tapi kita butuh roadmap yang jelas,” tegasnya.
- Paksi Raras Alit (Jawacana/Kelas Pagi Yogyakarta) dan Dipo (Nandur Srawung/UPT Taman Budaya) mengingatkan soal bahaya perubahan kebijakan lima tahunan serta regulasi yang kaku, yang seringkali menghambat inovasi.
- Dari perspektif media, Wimbo (Info Jogja) menekankan pentingnya sistem informasi satu pintu untuk promosi event, mencontoh sistem di Banyuwangi.
- Arie Widya Satwika (JNM Bloc) dan Dimas Nurcahyo (Lokakola Creative Circle) menyoroti kurangnya peran pemerintah dalam mendampingi komunitas sejak awal proses kreatif. Banyak seniman, kata Dimas, menghasilkan karya bagus tapi lemah di sisi administratif.
- Arief Budiman (Petakumpet Creativerse) menilai Bappeda sebenarnya punya roadmap, tetapi tidak pernah disosialisasikan. Keterbukaan informasi menjadi PR besar.
- Rizal (SWEDA) menambahkan bahwa banyak pelaku ekraf bingung mencari akses pemerintah, sementara dukungan manajerial nyaris tak tersedia.
- Sofyan (Jazz Mben Senen) menyoroti menurunnya minat generasi muda untuk bergabung dalam komunitas karena kurangnya ajakan kolaborasi di event-event.
- Aan (KRACK Studio) mengkritik minimnya keterlibatan pelaku kreatif dalam pembentukan regulasi sejak awal. “Tanpa i’tikad kuat dari pemerintah, kita tidak akan ke mana-mana,” katanya.
- RM. Satya Brahmantya (PDIN) menutup dengan refleksi: infrastruktur sudah ada, tapi kerap tak dimanfaatkan karena kurangnya political will. Ia menekankan pemerintah seharusnya menjadi dirigen, bukan sekadar eksekutor.
Arah Baru untuk Kota Kreatif
Diskusi ini menggambarkan satu hal jelas: ekonomi kreatif Jogja tumbuh karena komunitas, namun membutuhkan kepastian regulasi dan dukungan pemerintah yang berkelanjutan.
Forum Rembug Bareng bukan sekadar ajang berbagi keluh kesah, melainkan titik awal untuk menyatukan visi menjadikan Yogyakarta benar-benar sebagai Kota Kreatif, bukan sekadar predikat.